Selasa, 19 Juli 2011

Aguste comte

Perkembangan Akal Budi Manusia
Filsafat Aguste Comte

Istilah positivisme identik dengan tesis Aguste Come sendiri mengenai tahap-tahap perkembangan akal budi manusia, yang secara linier bergerak dalam urut-urutan yang tidak terputus. Perkembangan itu bermula dari tahap mistis atau teologis ke tahap metafisis, dan berakhir pada tahap yang paing tinggi yakni tahap positif.
Sebagai teori pengetahuan, istilah positivisme biasanya didefinisikan sebagai salah satu faham dalam filsafat barat yang hanya mengakui dan membatasi pengetahuan yang benar kepada fakta-fakta yang positi. Fakta positif adalah fakta yang sungguh-sungguh nyata, pasti dan langsung dapat diamati. Oleh comte fakta serupa itu dilawankan secara tegas dengan kejadian yang bersifat khayal, meragukan, ilusi dan kabur. Setiap bentuk pengetahuan yang tidak mendasarkan pada fakta-fakta positif, dan mendekatinya tidak menggunakan metode ilmu pengetahuan, tidak lain dari pada fantasi atau spekulasi liar.
Perkembangan akal budi menurut comte berlaku buat segenap umat mausia, baik sebagai kelompok maupun sebagai individu. Ada tiga tahap perkembangan akal budi manusia, antara lain :

1. Tahap Teologis
Tahap ini merupakan tahap paling awal dari perkembangan akal manusia. Pada tahap ini manusia berusaha menerangkan segenap fakta/kejadian dalam kaitannya dengan teka-teki alam yang dianggapnya misteri. Manusia tidak menghayati dirinya sebagai makhluk luhur dan rasional, yang posisinya di dalam alam berada di atas makhluk-makhluk lain. Sebaliknya ia menghayati dirinya sebagai bagian dari keseluruhan alam, yang selalu diliputi oleh rahasia yang tak terpecahkan oleh pikirannya yang sederhana. Misalnya, pada manusia purba, alam semesta oleh mereka dimengerti sebagai keseluruhan yang integral dan terdiri dari makhluk-makhluk yang mempunyai kedudukan yang kurang lebih setara dengan mereka dan seperti diri mereka sendiri, keseluruhannya itu dihayati sebagai suatu yang hidup dan berjiwa, berkemauan, dan bertindak sendiri.
Dalam tahap teologis ini terdapat beberapa bentuk atau cara berpikir, bentuk yang pertama adalah cara berpikir animisme, cara berpikir animisme ini tidak mengenal konsep-konsep abstrak, maupun konsep-konsep umum. Misalnya Pohon beringin di depan Kerato Yogyakarta, menurut cara berpikir animisme pohon beringin ini merupakan suatu pohon yang khas dan sakral dilihat dari bentuknya yang tinggi basar. Tidak mengerti bahwa pohon beringin yang tinggi besar itu merupakan suatu spesies pohon beringin pada umumnya. Benda-benda yang lain seperti manusia mempunyai jiwa atau rohnya sendiri seperti, cincin akik, keris, kereta kencana dan lain sebagainya , mereka mempunyai roh dan kepribadian sendiri-sendiri.
Kemudian ada cara berpikir lebih maju, yakni berpikir politeisme, cara berpikir ini sudah tampak adanya jenis klasifikasi atas dasar kesamaan dan kemiripan. Partikularis benda dan kejadian diganti oleh sesuatu yang berkonsep umum dan abstrak. Misalnya dalam berpikir animisme, tiap ladang, sawah di desa-desa dihuni oleh roh leluhur namun dalam cara berpikir politeisme diyakini bahwa yang menghuni atau memelihara sawah dan ladang ialah Dewi Sri di desa manapun.
Cara berpikir yang lebih maju lagi dari politeisme ialah monoteisme. Cara berpikir ini tidak lagi mengakui adanya banyak roh / dewa dari banyak benda atau kejadian, tapi hanya mengakui atu roh sajayakni Tuhan. Jadi semua kejadian, beda termasuk manusia berasal dari satu kekuatan tunggal yang bersifat rokhaniah yakni Tuhan. Cara berpikir monoteisme ini berkembang seiring berkembangnya dogma-dogma agama, yang kemudian dijadikan pedoman hidup masyarakat.

2. Tahap Metafisis
Pada tahap ini manusia mulai mengadakan perombakan atas cara berpikir lama, yang dianggapnya tidak sanggup lagi memenuhi keinginan manusia untuk menemukan jawaban yang memuaskan mengenai kejadian-kejadia alam semesta. Tahap ini semua gejala, kejadian tidak dihubungkan dengan kekuatan yang bersifat supranatural atau rohani. Manusia mulai mencari pengertian yang logis, mulai mengerti bahwa irrasionalitas harus disingkirkan dan analisis pikir perlu dikembangbiakkan.
Perbedaan diantara kedua cara berpikir ini terletak pada cara menerangkan kenyataan, Alam yang semula diasalkan dari dewa-dewa, kini diterangkan dengan menggunakan konsep abstrak seperti, kewajiban moral dll.



3. Tahap Positif
Tahap metafisis merupakan tahap peralihan dari cara berfikir lama (tahap teologis) ke cara berpikir positif. Misalnya masa pertumbuhan dari masa anak-anak menuju dewasa harus mengalami masa transisi yakni masa remaja. Demikian pula sebelum sampai ke tahap positif, akal budi manusia harus bergerak terlebih dahulu ketahap teologis ketahap transisi yakni metafisis.
Pada tahap ini gejala dan kejadian alam tidak dijelaskan hanya pengandai-andaian saja, namun dengan observasi dan eksperimen secara teliti. Mulai tahap ini akal mencoba mengobservasi gejala dan kejadian secara empiris dan hati-hati untuk menemukan hukum-hukum yang mengatur sebab-sebab timbulnya kejadian-kejadian itu. Hukum-hukum yang ditemukan tidak bersifat kabur malainkan nyata, jelas, pasti dan dapat dipertanggung jawabkan. Misalnya, mengenai dinamika sosial, kemajuan dalam bidang industri yang didukung atau dilandasi dengan ilmu pengetahuan justru membuat umat manusia menuju masyarakat yang tertib, stabil, aman, dan harmonis.
Di lain tempat comte menegaskan secara berulang-ulang bahwa ilmu pengetahuan positifpun mampu membebaskan manusia dari perasaan terkungkung oleh kekuatan magis akibat pandangan teologis, dengan kata lain tanpa perlu bantuan dari matefisika dan agama, ilmu pengetahuan pun memiliki keampuan untuk mencegah kita dari keinginan tidak rasional untuk berperang dan malakukan penindasan terhadap alam dan manusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar