Kamis, 31 Mei 2012

pipa bawah tanah


Saat ini pemerintah berusaha mengatasi permasalahan keterlambatan transportasi minyak bumi dan gas alam dari lokasi pengeboran ke tempat pengolahan dengan membangun pipa bawah laut.Hal ini erat kaitannya dengan masalah waktu dan biaya.Untuk itu perlu dilakukan upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut.Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai topografi dan jenis sedimen dasar laut serta menentukan jalur peletakan pipa bawah laut.Survei batimetri dilakukan di Perairan Balongan, Indramayu, Jawa Barat.Akuisisi data dilakukan dalam perangkat lunak Hydrostar yang terdapat dalam Kapal Baruna Jaya IV.Perangkat lunak yang digunakan untuk mengolah data kedalaman adalah Caris HIPS&SIPS 6.1.MB-Systems digunakan untuk memperoleh data amplitudo yang digunakan untuk melakukan klasifikasi jenis sedimen dasar laut. Kedalaman lokasi penelitian berkisar antara 11.5 m - 22.5 m. Berdasarkanketentuan DNV-OS-F101 Submarine Pipelines Systems 2007, jalur peletakan pipa adalah sisi kanan jalur pemeruman, yaitu pada koordinat 108.39 BT, 6.36 LS sampai dengan 108.62 BT, 6.36 LS dengan tingkat kemiringan sebesar 1.5 meter antara wilayah 2 dan 3 dan sebesar 1 m pada wilayah 3. Bagian tengah jalur pemeruman memiliki topografi yang lebih datar tetapi peletakan pipa pada daerah tersebut tidak dapat dilakukan karena sudah terdapat pipa lain. Jenis sedimen dasar laut yang didapatkan merupakan hasil klasifikasi dengan cara mencocokan nilai amplitudo dengan jenis sedimen hasil coring. Nilai amplitudo tersebut kemudian diinterpolasi dengan menggunakan metode Gaussian untuk mendapatkan sebaran jenis sedimen dasar laut. Jenis sedimen sepanjang jalur survey didominasi oleh jenis clayey silt diikuti dengan jenis silty clay dan silt.


 

 
Permintaan terhadap minyak bumi dan gas yang terus meningkat mengharuskan pemerintah untuk membangun sistem pendistribusian yang efektif.Pembangunan pipa bawah laut merupakan langkah yang tepat untuk mengatasi lamanya waktu yang dibutuhkan dalam pendistribusian material cair seperti minyak dan gas dari lokasi pengeboran.Pengangkutan material tersebut dalam jumlah besar menggunakan kapal membutuhkan waktu yang cukup lama.Informasi mengenai kondisi dasar laut sangat dibutuhkan untuk kegiatan pembangunan pipa bawah laut.Pembangunan pipa bawah laut harus memperhatikan topografi dan jenis sedimen dasar laut.Peletakan pipa pada topografi yang salah dapat menyebabkan pipa patah. Menurut Bachri (1998) diperlukan empat tahapan survei secara berurutan dalam melakukan pembangunan pipa bawah laut, yaitu :

1. Survei pendahuluan (recconaissance survey)
2. Survei detail (detail investigation survey)
3. Survei konstruksi (construction survey)
4. Survei inspeksi (as built or inspection survey)

Uji berlabuh jangkar (Anchorage Drop Test) dilakukan sebelum pelaksanaan kegiatan peletakan pipa.Hal ini dilakukan untuk mengetahui dengan pasti jenis dasar perairan di lokasi instalasi pipa bawah laut dan sebagai dasar penentuan kedalaman peletakan pipa di dasar perairan (natural seabed). Berikut merupakan ketentuan kedalaman penempatan jalur pipa bawah laut :
1. Pipa diletakan sedalam 3 meter di dasar laut untuk kedalaman 0 – 3 meter dari Mean Sea Level (MSL).
2. Pipa diletakan sedalam 2 meter di dasar laut untuk kedalaman 10 – 28 meter dari MSL.
3. Pipa langsung diletakan diatas dasar laut untuk kedalaman lebih dari 28 meter dari MSL.

4.Lokasi peletakan pipa harus terhindar dari lokasi pipa yang telah diletakan sebelumnya dan telah diumumkan secra resmi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Langkah awal penentuan jalur pipa bawah laut adalah dengan melakukan pembahasan terhadap peta batimetri yang dihasilkan. Setelah itu dilakukan penggambaran memanjang dari jalur pipa yang akan dibuat dengan melakukan penghitungan jarak mendatar di permukaan bumi fisik antara dua titik kedalaman pada jalur pipa yang direncanakan. Penentuan kedalaman peletakan pipa bawah laut sesuai DNV F 101, yaitu (d(syarat pendam)) dihitung berdasarkan kedalaman MSL. Kedalaman peletakan pipa didapatkan dari penyesuaian chart datum (d) ke MSL ( dMSL) dengan menambahkan nilai muka surutan (Zo) terhadap kedalaman kolom air (CD). Berikut merupakan persamaan yang digunakan dalam penentuan kedalaman pemendaman pipa bawah laut :

dMSL= d + CD (1)
dpipa= dMSL + d(syarat pendam) (2)

Nilai dpipa yang didapatkan selanjutnya digunakan untuk perhitungan faktor reduksi jarak mendatar (fr) pada permukaan bumi fisik sebagai komponen tinggi terhadap MSL (h).

Penentuan jalur peletakan pipa
Jalur peletakan pipa lokasi penelitian termasuk kedalam kategori export trunk pipelines, yaitu jalur pipa yang digunakan untuk menyalurkan hidrokarbon yang sudah diproses di platform ke short based terminal atau off shore loading facility (Guyon et.al, 2005 ). Penentuan jalur peletakan pipa bawah laut harus memperhitungkan beberapa faktor penting, yaitu :
1. Kemiringan dasar laut
2. Instalasi pipa bawah laut yang sudah ada sebelumnya
3. Tingkat keamanan pipa
4. Jenis sedimen dasar laut
5. Panjang jalur pipa

Faktor lain yang berpengaruh terhadap tingkat keamanan pipa adalah jenis fluida yang dialirkan dan jarak jalur pipa tersebut terhadap pantai. Jenis fluida yang dialirkan termasuk dalam kategori D, yaitu jenis gas alam berfasa satu dan tidak beracun. Jarak lokasi peletakan pipa terhadap pantai adalah 4.6 km sehingga berdasarkan kepada ketetapan DNV-OS-F101 Submarine Pipelines Systems 2007 tingkat keamanan jalur peletakan pipa termasukkedalam kategori tinggi. Hal ini berarti tingkat kegagalan yang terjadi menyebabkan risiko yang tinggi terhadap kecelakaan manusia, polusi lingkungan yang signifikan atau kerugian yang sangat besar pada ekonomi dan politik.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar